Pembelajaran Mendalam Bermula dari Ruang Kelas: Refleksi Praktik Baik Proyek Film Pendek

Penulis: Raudhatul Jannah Guru SMP Negeri 1 Banda Aceh

,


PENDAHULUAN

Kelas merupakan ruang yang indah untuk mempertemukan harmonisasi antara guru dan murid. Ilmu, wawasan, dan pengalaman menjadi rinai yang menyejukkan hati, pikiran, dan raga semua insan yang ada di dalamnya. Begitulah keindahan yang dapat kita bayangkan saat proses pembelajaran di ruang kelas berjalan dengan baik. Murid dengan penuh suka cita memperoleh hal baru dan membagikan berbagai hal yang ia tahu. Demikian juga guru yang ikut tersenyum lega dengan perkembangan baik anak didiknya. Harmonisasi yang indah, bukan? Tentunya hal tersebut adalah visual yang kita harapkan dapat terlaksana di ruang-ruang kelas setiap sekolah. Ini merupakan wujud dari pembelajaran mendalam. Pembelajaran yang tidak berfokus pada pendalaman konseptual semata, tetapi juga menciptakan kebermaknaan dalam kehidupan yang akan generasi ini jalankan. Bukankah ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru untuk dapat menciptakan nuansa tersebut di kelasnya?

Kita meyakini bahwa guru telah melakukan berbagai upaya untuk menciptakan pembelajaran yang baik dan bermakna. Berbagai metode dicoba dan dipraktikkan. Guru menghadirkan teknologi dalam pembelajarannya sehingga tercipta berbagai inovasi pembelajaran. Guru menyusun dan mengkreasikan modul ajar yang bertemankan kecerdasan buatan (AI). Guru juga menyusun dan  melaksanakan asesmen untuk melihat ketercapaian murid dalam pembelajaran. Beberapa konteks tersebut tentunya sangat diperlukan untuk mendukung kesuksesan praktik pembelajaran. Namun, tanpa disadari, guru semakin tenggelam dengan kesibukannya mengelola pembelajaran sehingga ada hal-hal kecil yang mungkin luput dari guru selama proses pembelajaran berlangsung. Contoh sederhana, murid mengikuti pembelajaran secara fisik tanpa memahami apa yang dipelajarinya atau murid kehilangan kesempatan berpikirnya karena guru sibuk dengan penyajian salindia presentasi yang memukau di depan kelas. Hal kecil tersebut tanpa disadari dapat menjadi pemicu lahirnya problematika yang besar bagi dunia pendidikan jika dibiarkan tanpa solusi dan tindakan nyata.

Data dari hasil Program for International Student Assessment (PISA) sudah sering menjadi cermin bagi kita untuk melihat bagaimana kemampuan murid di Indonesia di bidang literasi, numerasi, dan pemecahan masalah. Demikian pula data dari World Economic Forum (WEF) yang menunjukkan bahwa banyak pergeseran keterampilan sehingga menuntut dunia pendidikan menggencarkan kemampuan berpikir analitis, berpikir kritis, dan literasi AI. Belum lagi laporan hasil survey yang bersumber dari UNESCO Global Education Monitor Report 2016 menunjukkan Indonesia berada di urutan ke-14 dari 14 negara berkembang di dunia dalam aspek penilaian kualitas guru. Berdasarkan data-data tersebut, esensialnya tantangan pendidikan bukan lagi pada metode pembelajaran yang diciptakan, melainkan mematikan setiap murid benar-benar mendapatkan pembelajaran bermakna.

Perubahan dan pembaruan nyata tentu dapat dilakukan oleh setiap guru di dalam ruang kelasnya masing-masing. Bagaimana jika guru berhenti menjadikan murid hanya sebagai penerima pembelajaran? Bagaimana jika guru tidak menguras habis waktunya untuk menyelesaikan materi hingga ke bab terakhir, tetapi membersamai murid membangun cara berpikir di setiap materi yang diajarkannya? Kiranya hal-hal demikian perlu diperhatikan guru agar murid dapat turut merasakan eksistensi dirinya di dalam kelas. Pada akhirnya, guru tidak hanya mengontruksi pembelajaran, tetapi juga merekontruksi hakikat dari belajar itu sendiri.

Guru perlu melakukan action out of the box dalam pembelajaran yang dilaksanakan. Metode yang berbeda tersebut membentuk iklim pembelajaran yang baru, bermakna, dan menyenangkan bagi peserta didik. Hal ini sejalan dengan Kostiainen, dkk. (2017:75) yang mengemukakan bahwa untuk mencapai pembelajaran yang bermakna, guru perlu menantang dirinya melalui dua cara, yaitu mengeksplorasi diri dengan hal-hal baru dan berani mengaplikasikan desain pembelajaran yang lebih luas dan bahkan yang belum pernah dilakukan sekalipun. Karena hakikatnya, proses belajar bagi peserta tidak selamanya berupa kegiatan transfer pengetahuan, tetapi juga proses mengonstruksikan pengetahuan tersebut ke dalam realita yang selaras dengan kehidupan sehingga dapat menciptakan pengalaman berharga.

 

PEMBAHASAN

Mengutip nasihat dari Khalifah Umar bin Khattab, “Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, bukan zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya”. Nasihat ini menjadi renungan bagi penulis sebagai seorang guru yang berhadapan dengan murid di era modern ini. Generasi ini diyakini memiliki kecepatan yang tinggi dalam menyerap manfaat teknologi dalam kehidupannya. Hal ini menjadi momentum untuk memaksimalkan potensi murid dan melakukan kontribusi yang nyata dalam menciptakan pembelajaran mendalam.

Banyak inovasi yang dapat dilakukan guru untuk menciptakan pembelajaran mendalam. Dalam konteks ini, salah satu kegiatan pembelajaran yang diimplementasikan adalah model pembelajaran berbasis proyek (PjBL). Melalui model pembelajaran ini, guru dapat menjadikan murid sebagai eksekutor utama pembelajaran. Murid diberikan ruang untuk meruahkan ekspresi dan kreasi sesuai dengan kemampuan mereka. Adapun proyek yang dijalankan tersebut memberikan output  berupa film pendek. Pembelajaran ini mengarah pada proses pembelajaran bermakna dan mengonsepkan pesan kehidupan dengan tidak melepaskan kecanggihan teknologi yang tersedia.

Pada dasarnya, pelaksanaan kegiatan pembelajaran berbasis digital melalui pembuatan film pendek inspiratif ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem pembelajaran guru yang holistik, baik secara akademik maupun nonakademik. Akan tetapi, di sisi lain, pembelajaran dengan konteks perfilman ini semakin mendukung pembelajaran bermakna dan kontekstual bagi murid. Hal ini tidak terlepas dari salah satu aspek pembekalan awal dan pengembangan keterampilan abad ke-21 bagi murid dalam berliterasi digital yang tentunya akan semakin relevan untuk masa depan. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi murid dalam mengekspresikan ide-ide kreatif dan karya orisinal melalui cerita-cerita menarik yang diangkatnya.

Adapun tahapan pelaksanaan pembelajaran meliputi:

1.      Pemberian Pertanyaan Mendasar

Pembuatan film pendek bukanlah hal yang mudah. Tentu saja dalam pemroduksiannya dibutuhkan tim dengan jumlah anggota yang tidak sedikit. Maka, peserta didik dibagi menjadi dua kelompok besar yang terdiri atas 15-17 peserta didik per kelompok. Peserta didik juga diajak untuk menyaksikan film inspiratif lalu dilanjutkan mengeksplorasi lebih jauh unsur-unsur yang mendukung penciptaan film. Setelah itu, tim berdiskusi lebih lanjut tentang ide cerita inspiratif yang akan diangkat menjadi film.

2.      Menyusun Perencanaan Proyek Film

Peserta didik dalam timnya masing-masing saling berdiskusi dan berbagi peran produksi sesuai dengan bakat dan minatnya dalam film. Karena hakikatnya, keberhasilan sebuah film bukan hanya pada peran aktor dan aktrisnya, melainkan juga peran produser, sutradara, penulis naskah, kameramen, editor, penata busana, penata rias, penata properti, dan unsur lainnya yang dikira penting. Setelah itu, tim membuat rancangan kegiatan selama produksi. Guru turut menentukan beberapa syarat film yang tidak memberatkan tim, salah satunya durasi film 3-10 menit.

3.      Penjadwalan Kegiatan

Masing-masing kelompok film diarahkan untuk membuat jadwal (timeline) kegiatan selama pemroduksian berlangsung. Dimulai dari tenggat waktu dalam penulisan naskah cerita, script writing, penyiapan alat, bahan, dan lokasi yang diperlukan, proses shooting, editing, hingga pembuatan poster promosi film.

4.      Pemantauan Kemajuan Proyek

Selama jadwal yang ditentukan, guru terus membersamai kelompok film. Guru turut membimbing dan memantau kemajuan proyek selama praproduksi, produksi, hingga pascaproduksi.

5.      Penilaian Hasil

Tim diminta untuk mengumpulkan film pendek inspiratifnya melalui tautan google drive. Poster film pendek selanjutnya dipublikasi melalui Instagram @kelas_Bu.Rau. Setiap peserta didik dapat memberikan tanda suka, komentar, dan membagikan ke media sosial mereka. Film pendek yang dihasilkan diunggah ke kanal Youtube.

6.      Evaluasi Pengalaman

Setiap tim dikumpulkan secara terpisah untuk dilakukan perekaman testimoni lanjut oleh guru sebagai bahan evaluasi. Hasil testimoni diunggah ke Kanal Youtube https://www.youtube.com/@rauRJ25.

 

Pembuatan film pendek ini tentunya membutuhkan waktu yang tidak singkat. Guru menjadi fasilitator utama dalam melakukan pendampingan pembelajaran. Pengalaman pertama dan kebingungan yang dialami murid menjadi dasar pijakan bagi guru untuk hadir membersamai mereka. Kelas berubah menjadi ruang perjumpaan gagasan antarmurid. Berbagai eksplorasi ide dan pengalaman saling memenuhi ruang diskusi kelas. Proses berbagi peran produksi sesuai dengan kemampuan dan keterampilan juga terjadi di dalamnya. Karena hakikatnya, keberhasilan sebuah film bukan hanya pada peran aktor dan aktrisnya, melainkan juga peran produser, sutradara, penulis naskah, kameramen, editor, penata busana, penata rias, penata properti, dan unsur lainnya yang dikira penting.

Terkadang konflik pun tidak dapat dihindari dalam prosesnya. Hal tersebut juga penulis alami dalam praktik pembelajaran ini, di antaranya tim yang sulit diatur, jadwal perekaman yang beradu dengan kegiatan lain, murid yang masih malu-malu menjadi aktor, adegan yang gagal, dan sebagainya. Namun, permasalahan itu bukan berarti pembelajaran tersebut gagal, melainkan di sinilah murid belajar banyak hal dalam prosesnya. Mungkin ada murid yang pertama kali merasa idenya didengar, mengambil rekaman gambar harus lebih stabil, menyunting akhir juga harus jeli dan teliti, dan sebagainya. Pengalaman-pengalaman baru yang diperoleh dalam pembelajaran tersebut tentu menjadi bagian makna hidup yang berharga.

Guru perlu mencermati kembali bahwa target pembelajaran bukan sekadar berhenti pada pemberian pengetahuan dan penuntasan materi, melainkan proses menemukan makna. Murid belajar mendengarkan, menerima kritik, menyelesaikan konflik, bertanggung jawab, dan memimpin. Hal ini berimplikasi dengan empat pilar pendidikan yang dikemukakan UNESCO. Learning to do, murid dapat belajar memecahkan masalah. Learning to know, murid mencari tahu lebih banyak hal yang belum diketahuinya. Learning to be, murid belajar untuk mengenal potensi diri. Learning to live togather, murid belajar untuk menghargai sesama.

Di balik hasil karya tersebut, proyek ini telah mengantarkan murid mengalami pengalaman yang nyata dan menikmati esensi dari pembelajaran mendalam. Murid tidak hanya memahami konseptual materi, tetapi juga mampu menyisipkan nilai-nilai positif dalam proses pembelajaran dan proyek yang dihasilkan. Bukankah hal tersebut juga telah menyiratkan tiga elemen utama pembelajaran deep learning? Murid mengalami proses mindful learning, yaitu proses menemukan kesadaran diri pentingnya belajar, proses meaningful learning, yaitu proses menemukan kebermaknaan dari pembelajaran yang dilaksanakan, dan joyful learning, yaitu proses yang menggemberikan dari pembelajaran tersebut.

 

PENUTUP

Salah satu karya film tersebut diikutsertakan dalam sebuah Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) tingkat nasional dan berhasil masuk dalam kategori 10 film fiksi terpilih. Hal ini menjadi bukti bahwa jika murid diberikan ruang belajar yang tepat, mereka dapat menghasilkan sesuatu yang jauh tidak terbayangkan sebelumnya. Keberanian untuk mencoba, kegigihan untuk menyelesaikan, kesediaan untuk mendengar kritik, dan keyakinan diri yang kuat akan menciptakan ruang terbaik bagi murid untuk bersinar. Hal inilah yang membuat guru akan memandang murid sebagai manusia seutuhnya.

Pembelajaran mendalam ini tidak akan serta-merta tercipta di dalam ruang kelas yang gurunya tidak mau belajar. Karena esensialnya, proses belajar itu bukan hanya dilakukan oleh murid, melainkan juga oleh guru. Guru tidak boleh berhenti belajar karena guru adalah garda terdepan untuk menciptakan peradaban Indonesia yang lebih baik melalui murid-muridnya. Dari ruang kelas, guru dapat mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur. Indonesia yang berdaulat dapat teralisasikan ketika guru mampu membuat murid-muridnya percaya bahwa gagasan mereka layak diwujudkan; Indonesia yang adil dapat teralisasikan ketika guru mampu membuat murid memiliki kesempatan mengeksplorasi diri dan berkontribusi sesuai dengan bakat dan minatnya; Indonesia yang makmur dapat teralisasikan ketika guru tidak hanya mengasilkan alumni dengan almamater yang hebat, tetapi guru dapat melahirkan manusia berbudi luhur, bertanggung jawab, berpikir kritis dan kreatif, dan mampu menyelesaikan persoalan nyata.

REFERENSI

Kusuma, Candra Nur Tri dan Siwi, Dwi Anggraeni. 2026. Implementasi Deep Learning dalam Menumbuhkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Kelas V Sekolah Dasar, 11 (02). https://doi.org/10.23969/jp.v11i02.44478.

Kostiainen, E., Ukskoski, T., Ruohotie-Lyhty, M., Kauppinen, M., Kainulainen, J., & Mäkinen, T. 2017. Meaningful learning in teacher education. Teaching and Teacher Education, 71, 66–77. Doi:10.1016/j.tate.2017.12.009

Misheva, Galina. 2026. “The Great Skills Reset” in WEF’s Future of Jobs Report 2025: a Catch-22 for The Future of Work?. Https://digital-skills-jobs. europa.eu/en/latest/news/ great-skills-reset-wefs-future-jobs-report-2025-catch-22-future-work.

Sobe, Noah W. 2021. Reworking Four Pillars of Education to Sustain the Commons. https://www.unesco.org/en/articles/reworking-four-pillars-education-sustain-commons.

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
LINK TERKAIT